Senin, 09 September 2013

Mundur Teratur Tanpa Komando

Tujuh September dua ribu dua belas


"Merasa kehilangan walau belum sempat memiliki."

Gumam dalam hatiku. Pupus rasa yang selalu aku damba. Ya.. rasa yang selama ini aku damba, lenyap karena tanpa balas asa darinya. Dia bersama yang lain. Meski perih. Aku putuskan untuk membuangnya dalam samudera angan yang entah keterjangkauannya. Ku kemas mimpi-mimpi yang tak pantas untuk aku sandang. Mimpi bisa ku ukir indah cerita cinta bahagia bersamanya. Ku balut rapih dengan pita putus asa. Ku masukkan kedalam kotak kado kekecewaan.

Tuhan telah tunjukkan bahwa dia tak baik untukku. Tugasku sudah selesai. Kamu bahagia (bersamanya). Aku pergi.

Sabtu, 07 September 2013

Asa yang Terlunta

Enam September dua ribu dua belas

Surup sayup kami masih bersama. Ya, bocah forum yang lalu pernah aku bahas.
Dia, si putra Jogja. Bersama orang yang tak tau pula apa maksud dari kedekatan mereka. Bercanda bersama, bersuka ria. Insan mana yang tak ingin didamba dari orang yang sedang ia damba?
Hmm tapi.. Siapakah aku? Pantaskah cemburuinya? Ah, tidak tidak. Aku hanya ingin cemburu pada mereka yang lebih dari aku.
Terkesan sombong memang. Tapi memang seperti itulah aku. Dengan itu membuat aku jadi tenang dan optimis.

Tuhan sedikit menyentil hatiku. Ia mengingatkan bahwa segala sesuatunya yang kererlaluan itu tak apik. Aku menyadarinya. Aku tak boleh lengah dengan keadaan dan terlena dalam suasana damba ini. Aku memang sayang dia, tapi tak lebih sayangku untuk Tuhan.
Terimakasih Tuhan..

Entahlah.. Biarkan tangan Tuhan memantaskan bagaimana harusnya dan semoga waktu yang menjawab semua ini.
Aamiin.

Jumat, 06 September 2013

Kernyitan Dahi Semesta

Lima September dua ribu dua belas

Tampak jejak langkah sang asa yang sedang berpijak. Entah kenapa menumbuhkan bahagia yang beranakpinak. Jumpa waktu singkat itu. Hmm.. sembilan puluh enam jam bersamanya, aku terpesona rona sosoknya. Si putra Jogja (lagi).
Tuhan.. baru kali ini kurasa hati yang sedang mendamba. Tak karuan rasanya. Dia istimewa.

Tuhan..
Bila memang izinMu Kau untukkan padaku, jadikan ia imam dalam rakaat kehidupanku.
Tuhan..
Dia yang pertama menelusur hati dalam alunan syahdu kasihMu dalam hatiku.
Mungkin semesta terheran padaku. Sebeginikah rasaku untuknya? Waktu yang singkat seperti ini kah?
Yaa.. Sependek waktu itu dapat kurasakan bahwa tumbuh rasa cinta dihatiku. Ya, aku yakin itu.
Memang tak pernah ada rasa suka terhadap yang lainnya.
Hmm.. Kernyitan dahi semesta sedang terjadi.


Tuhan..
Aku sungguh mengaguminya.
Aku malu mengatakan padanya.
Dan rasa ini hanya kusimpan.
Apa mungkin ini karena baru pertama kurasa damba?
Tuhan..
Berjuta tanda tanya memenuhi otakku.
Aku tau ini namanya rasa cinta.
Aku salah tingkah dan bimbang dalamnya.
Aku tak tau harus bagaimana.
Aku hanya selalu menyertakan ia dalam syair doaku yang mengangkasa.
Kemudian sebagian kecil semesta meng-aamiin-kannya.
Aku menyayanginya..
Semoga doaku Kau ridhoi, Tuhan..
Aamiin.

Luang Sayang

Empat September dua ribu dua belas

Sore itu. Dibawah pohon dan suasananya mesra. Terdapat satu forum, yang tak sengaja di dalamnya aku dan dia dihadapkan dalam suasana perkenalan yang membahagiakan.
Tuhan, ciptaan-Mu yang Maha Indah yang ku kagumi sedang berada tepat dihadapku. Ya.. benar, lagi-lagi si putra Jogja.

Duduk bersila dengan keakraban suasana baru yang sedang ku dapati. Sedikit-sedikit ku pandangi dia. Entah ia mengetahuinya atau tidak. Aku begitu riang mendapatinya tepat pada satu garis lurus, dihadapanku. Aku mengaguminya.
Ketika ku pandangi dia, sesekali dia membalas tatapan mataku. Seketika itu, jantungku berdegup sangat cepat. Benar-benar bahagia yang tak ternyana bisa aku bertatap tanpa cuap waktu itu.

Dia..
Sederhana, tapi selalu tertatap istimewa.
Bola matanya bulat dan cokelat. Manis sekali.
Perawakannya kurus dan perkulitannya yang putih resik.
Bicaranya santun. Begitu bijaksana.
Entahlah.. bagaimana lagi aku luapkan rasa yang ada dihatiku. Yang pasti, aku mengaguminya dengan sangat.

Terimakasih, Tuhan..
Atas ciptaan-Mu yang Maha Indah dan rasa yang sedang kau tumbuhkan dalam hatiku.
Aku menyayanginya..

Menjelang Gumam Dzuhur

Dua September dua ribu dua belas

Setapak langkah menuju perdana syahdu. Seoang mahasiswi berbunga hati dengan rona senyum. Entah apa yang terjadi. Entah apa yang sedang ku lalui. Aku jatuh hati pada seorang putra Jogja. Pawakannya biasa, tapi tertatap istimewa. Bola mata cokelat, dan perkulitan putih yang sedang ku damba.

Tuhan..
Jika memang Engkau mengizinkan,
Tak hanya doa untuknya yang terlantun,
Izinkanlah dia jua yang jadi penuntun,
Yang menyesatkanku dalam kebenaran dan keridhoan-Mu.

Tuhan..
Tak banyak inginku..
Jika memang benar Engkau menempatkan ia dihatiku,
Jangan biarkan dia menimang rasa untuk yang lainnya.
Penjarakan dia untukku..
Tuhan..
Aku menyayanginya..