Aku pernah lupa bagaimana cara membuka hati untuk orang lain sebelum bertemu kamu. Saat itu aku sedang asyik merajut benang-benang kesedihan yang aku jadikan syal untuk membelit leherku sendiri ketika kau memandangiku dari sebuah ruangan yang suasananya tenang.
Aku melirikmu, lalu mengabaikanmu.
Aku pernah lupa bagaimana rasanya jatuh cinta sebelum memandang senyummu. Saat itu aku sedang membuat secangkir teh tanpa gula yang aromanya menarikan keresahanku ketika kau memperhatikanku dari tempat duduk yang berada di samping tempat aku membuat teh itu.
Aku melirikmu, menghembuskan napas, lalu mengabaikanmu.
Hingga suatu malam, kau terbangkan kunang-kunang ke dekat tempat aku biasa duduk. Aku memeluk tas selempangku dan memandang arah keluar pintu. Kau tersenyum dan menunju ke pintu, lalu berjalan masuk ruangan. Kau duduk di sampingku lalu kita bercerita tentang mengapa kunang-kunang yang kau berikan untukku.
Aku melirikmu, memperhatikan binar dari balik lentik bulu matamu. Kemudian semuanya terasa cukup bagiku. Cukup untuk berada di sampingmu. Cukup untuk mensyukuri kehadiranmu.
Tak peduli apa yang menyakitimu, tenanglah... Sebab ada saatnya bahwa kehadiran dirinya sudah cukup dan kau merasa tak butuh apa-apa selain berada di sisinya.
Hadirmu itu menguatkan, karena adamu pula aku bertahan.
Selasa, 28 April 2015
Senin, 27 April 2015
Laki-laki Saya
Ini secuil cerita tentang laki-laki saya...
Saya selalu menyukai ritual membunuh rindu bersamanya. Laki-laki saya. Seperti anak kecil yang pulang ke
rumah setelah seharian bermain bersama teman-teman. Seperti anak kecil yang setelah hujan-hujanan, dimandikan mamanya kemudian disusguhi susu putih hangat. Sangat nyaman dan hangat. Dia adalah hadiah atas (kalau
saya boleh narsis) kesabaran saya terhadap waktu yang saya yakini menjanjikan dia atas doa saya yang mengangkasa. Laki-laki saya adalah
pengingat dari Tuhan bahwa saya sudah seharusnya bersyukur atas nikmat
yang diberikan.
Laki-laki saya jarang sekali marah
padahal saya bawel dan suka rewel bahkan ia sangat sabar karena saya memiliki suasana hati yang sering berubah-ubah.
Laki-laki saya memang
mendidik dirinya sendiri untuk selalu jujur, maka dia tidak pernah membohongi saya.
Ia selalu mengatakan saya
cantik padahal saya tidak cantik. Dia selalu mengingatkan saya untuk
makan padahal itu kode dia untuk mengajak saya makan bersama.
Laki-laki saya selalu bilang kalau apa yang ada di kepala saya begitu menyenangkan
baginya padahal saya sendiri sering mati bosan dengan hal-hal yang saya
pikirkan. Dia pandai dan mampu membuat saya merasa cantik, merasa
pandai, merasa percaya diri, dan merasa lebih baik.
Laki-laki saya mampu membuang jauh rasa sedih saya ketika saya menangis sesenggukan karena merasa terlalu lemah dalam menghadapi kenyataan. Dia mengatakan bahwa saya kuat, padahal saya sering menemukan diri saya menyerah pada
keadaan. Dia mampu membuat saya percaya untuk menjulurkan tangan dan
menerima bantuannya saat saya terjatuh dan malas untuk bangkit sendiri.
Laki-laki saya selalu memaafkan meski
saya sering menemukan kesalahan diri sendiri begitu memalukan. Laki-laki
saya adalah kekuatan yang saya ingat saat saya begitu tenggelam dalam
kelemahan. Dia pelita dalam keremangan. Rembulan di langit malam.
Saya pernah begitu marah pada diri
sendiri karena merasa begitu tolol dan terlalu banyak cemburu. Laki-laki
saya mau repot-repot meyakinkan bahwa saya tidaklah seburuk yang saya
pikirkan. Saya pernah salah, dan ia tidak pernah menolak untuk
memperbaiki. Saya pernah sakit, dan laki-laki saya tidak pernah menghindar
untuk menemani.
Laki-laki saya seorang yang penyabar, dan itu membuat saya
meniru kesabarannya. Dia tenang yang menenangkan. Dia meneduhkan. Dia tahu
kapan harus memperlakukan saya sebagai seorang adik kecil atau sebagai
seorang perempuan dewasa yang dia butuhkan.
Teruntuk kamu, terima kasih untuk 635 hari ini. Mari menghitung lebih banyak lagi.
Rabu, 22 April 2015
Sudah Pagi yang Lain
Detak jam yang bertempo sama, masih menghiasi malam yang telah kita lalui bersama dengan teman-teman yang lainnya. Namun, dalam keramaian pun aku masih saja nyaman berada disisimu. Bersenda gurau, bercengkrama, bercanda tawa, bersama-sama.
Semakin hari semakin saja kau membuka misteri. Dirimu yang cukup misterius, perlahan menunjukkan bahwa semakin pekat rasa sayangmu padaku. Dengan cara yang luar biasa pula, kau menunjukkan hal itu. Diiringi malam yang semakin menua, hingga fajar menginginkan sua atas pagi dengan cerah mentari yang di damba.
Telah terukir lembar baru pada lanjutan kisah yang terangkai seru.
Sudah pagi yang lain, aku tetap menyayangimu..
Semakin hari semakin saja kau membuka misteri. Dirimu yang cukup misterius, perlahan menunjukkan bahwa semakin pekat rasa sayangmu padaku. Dengan cara yang luar biasa pula, kau menunjukkan hal itu. Diiringi malam yang semakin menua, hingga fajar menginginkan sua atas pagi dengan cerah mentari yang di damba.
Telah terukir lembar baru pada lanjutan kisah yang terangkai seru.
Sudah pagi yang lain, aku tetap menyayangimu..
Selasa, 21 April 2015
Akui Saja
Bagaimana bisa kamu memungkiri bahwa kamu tidak jatuh hati, ketika sedang melihat dirinya saja, kamu bahagia dan senyum-senyum tanpa alasan?
Beberapa hati memang kadang tidak mau mengakui bahwa ia sedang jatuh. Mungkin karena yang di jatuhi hati belum jelas menaruh rasa yang sama atau tidak kepada kita.
Sekarang, ceritanya kamu sudah jelas-jelas mengetahui bahwa ia yang kamu sukai, melakukan hal yang sama untukmu. Ya, menyayangimu. Memberimu rasa sepenuh hati dan seperangkat bahagianya. Memberimu perhatian dan pengertian atas apa yang kamu miliki. Pun kamu. Melakukan hal yang sama dan membalas apa yang telah diberikannya. Bahkan, ketika ia bersama teman lawan jenisnya-pun kamu sering merasa cemburu. Rasa ingin selalu menemuinya juga memaksamu mencari keberadaannya ketika kamu tak bersamanya.
Lalu? Masih saja belum yakin untuk mengakui?
Ehem..
Sudahlah..
Akui saja kalau kamu juga jatuh cinta padanya.
Beberapa hati memang kadang tidak mau mengakui bahwa ia sedang jatuh. Mungkin karena yang di jatuhi hati belum jelas menaruh rasa yang sama atau tidak kepada kita.
Sekarang, ceritanya kamu sudah jelas-jelas mengetahui bahwa ia yang kamu sukai, melakukan hal yang sama untukmu. Ya, menyayangimu. Memberimu rasa sepenuh hati dan seperangkat bahagianya. Memberimu perhatian dan pengertian atas apa yang kamu miliki. Pun kamu. Melakukan hal yang sama dan membalas apa yang telah diberikannya. Bahkan, ketika ia bersama teman lawan jenisnya-pun kamu sering merasa cemburu. Rasa ingin selalu menemuinya juga memaksamu mencari keberadaannya ketika kamu tak bersamanya.
Lalu? Masih saja belum yakin untuk mengakui?
Ehem..
Sudahlah..
Akui saja kalau kamu juga jatuh cinta padanya.
Kamis, 16 April 2015
Kamu Kenapa?
Karena yang kita pertahankan dan kita tunggu, belum tentu melakukan hal yang sama kepada kita. Jadi jangan yakin dulu bahwa kita adalah prioritasnya.
-pipin
Menganggap biasa saja hal yang kita lakukan itu lebih baik daripada menganggap luar biasa akan hal yang telah kita lakukan itu. Karena yang menurut kita terbaik untuk kita, belum tentu itu yang terbaik untuk orang lain yang mengalami hal yang sama. Ya, penilaian masing-masing itu berbeda. Jangan menganggap karyamu yang terbaik. Ingatlah diatas langit masih ada langit.
-pipin
Ketika mengejar seseorang dan entah orang itu melakukan hal yang sama untuk kita atau tidak, menentukan arah pilihan dan dilema hati pun terjadi.
Saat hal itu terjadi pada saya, saya memilih diam dan pergi dari ketidakjelasan dan kesemuan itu.
Jangan menerka-nerka dan meyakinkan hati bahwa ia melakukan hal yang sama untuk kita. Terutama, prioritas.
Suatu hari, saya menaruh hati pada seseorang. Ia tau saya meletakkan hati kepadanya. Yah, mungkin dari sikap dan rasa perhatian yang saya berikan kepadanya. Namun, dia acuh akan semua yang saya rasakan meskipun ia mengetahui. Suatu saat saya memilih meninggalkan dan mencoba melupakan karena banyak hati yang ingin bersama saya dan banyak hati yang selalu ada untuk saya, walaupun saya sama sekali tidak tertarik pada mereka (mungkin belum).
Suatu ketika, ia mengetahui bahwa saya sedang bersama seorang yang menaruh hati pada saya. Ketika itu canda tawa dan riuh kebersamaan sedang kami lakoni. Entah apa yang sedang ia tunjukkan, perilaku yang tak seperti biasanya.
Ia lebih sering murung dan tak menyapa saya.
Ia lebih banyak memberikan alasan untuk pergi.
Ia lebih sering menyanyikan lagu-lagu yang saya rasa itu lagu yang mewakili perasaan yang sedang galau.
Ia lebih memberikan percakapan yang lebih terperinci kepada saya.
Muncul rasa heran dalam hati saya. Penasaran. Dalam pikiranku mengernyit dan bertanya, "Kamu kenapa?"
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)





