Senin, 17 Oktober 2016

Karena Aku Bukan Tuhan, Bang.

Bagaimana ketika memang keadaan yang tidak jelas bisa di jadikan alasan untuk tidak bertegur sapa, tidak lagi mengungkap kata sayang, tidak lagi ada rindu yang menjadi alasan setiap adanya pertemuan, tidak lagi berjalan bersama beriringan menuju kebahagiaan yang diinginkan?

Ah.. Sudahlah.. Mungkin pemikiran seperti itu yang harus dihilangkan dei hubungan yang teteap bertahandan untuk mengalahnya satu pihak supaya hubungan indah tetap utuh dan bersama secara rapih.

Namun, bisakah ketika hanya satu pihak saja yang bahagia?
bisakah ketika hanya salah satu yang berjuang?

Jawabannya: TIDAK!

Namanya menjalin kebahagiaan bersama, keduanya harus seimbang. Semesta pasti tidak ingin ada yang timpang ketika dua anak manusia berniat berbahagia bersama dan berjuang bersama demi manis pahitnya rasa kehidupan.

Diammu, Bang.
Diammu yang aku tak mengerti apa penyebabnya, berulangkali terjadi. Selalu saja aku yang mengalah demi semua terjalin rapih.
Selalu saja aku yang melupakan apa yang telah menjadi masalah yang membuat hubungan ini berantakan.
Aku berjuang sendirian.
Aku bahagia sendirian.
Tanpa alasan kamu membungkam tuturmu.
Tanpa ada yang tau mengapa dan apa penyebabnya.
Aku bukan Tuhan, Bang.
Yang dengan diam saja aku bisa paham maksud, tujuan, dan inginmu.
Perempuan juga butuh bahagia, Bang.
Bukan untuk berjuang sendirian.
Bukan untuk bahagia sepihak.

Ucapkan inginmu, perempuan akan memahami.
Walau sakit.
Walau harus mengalir air mata tanpa diminta.
Perempuan adalah makhluk istimewa yang memang harus di istimewakan.