Banyak
orang yang kalau ditanya ingin pasangan seperti apa, maka jawabannya bisa nggak
cukup kalau ditulis di selembar kertas saja. Kalau saya ditanya pertanyaan yang
sama, jawaban saya cukup 2 kata, yakni: Setia dan taqwa.
Pipin, nggak mau cowok yang kaya?
Ya mau,
tapi saya udah pernah ngerasain hidup banyak uang tapi nggak bahagia. Rejeki
yang cukup saja, cukup buat liburan dan buat sekolahin anak, tapi kalau dikasih
yang lebih ya Alhamdulillah.
Pipin, nggak mau punya cowok ganteng?
Ya mau,
tapi nggak perlu seganteng Abimana Aryasatya juga. Yang cukup buat saya tatap
setiap saya bangun tidur aja. Lagi juga jaman sekarang, kebanyakan yang ganteng
sukanya juga sama yang ganteng. Eh.
Pipin, nggak pengen punya cowok pinter?
Kalau dia
taqwa, dia pasti pandai. Karena dia tahu, salah satu amalan yang tidak akan
terputus walau seseorang sudah meninggal adalah “ilmu yang bermanfaat”.
Pipin, tapi kebanyakan cowok taqwa kan nggak cool, Pin!
Pikiran kayak begini
yang bikin banyak orang nggak mau lagi jadi taqwa. Karena bahkan sesama muslim
di sekitarnya, menganggap yang taqwa itu ya 'kolot dan aneh'. Hmm. Cukup mengherankan.
Saya pernah dengar
cerita dari teman yakni tentang salah satu alasan Sacha Stevenson (youtub-er
bule yang sekarang jadi entertain di Indonesia) membuka jilbabnya. Dulu waktu
dia masih di Canada, orang di sekitarnya selalu mandang dia teroris dan aneh
karena dia memakai jilbab. Sampai akhirnya dia pindah ke Indonesia, ke negara
yang mayoritas muslim, tapi ternyata dia masih selalu mendapat perlakuan
diskriminasi. Sacha susah mendapatkan pekerjaan di Indonesia, susah diterima di
lingkungan barunya, dan banyak mendapatkan kesulitan lain. Padahal, dia sedang
tinggal di negara yang mayoritas muslim. Hmm. Sedih.
Mungkin itu mengapa di
kepala anak jaman sekarang--anak muda yang taqwa itu kampungan dan nggak cool.
Ya kalau yang
memandang begitu anak baru gede--anak SMP/SMA/Awal kuliah saya kira saya masih bisa paham.
Soalnya ya masih belum memiliki pengalaman yang lebih di hidupnya. Masih
berperinsip, muda itu waktunya jadi bandel dan nakal. Muda itu waktunya bikin
salah sebanyak-banyaknya. Sampai lupa, kalau nggak ada yang pernah ngasih
jaminan, kalau semua orang bisa selamat melewati masa nakalnya.
Taqwa itu seharusnya yaa
pandai mengikuti perkembangan jaman. Karena pengetahuannya luas, karena hatinya
luas, karena pikirannya nggak sempit, karena mampu menilai dan melihat masalah
tidak hanya pada satu sudut pandang saja.
Biarkan saya bercerita padamu, saya punya teman yang dulu pernah nyobain segala mancam salah,
pernah nyobain segala macam bentuk kenakalan, sampai dia nyaris kehilangan
nyawanya sendiri. Dan apa yang dia dapatkan? NGGAK ADA. Dan apa yang hilang
dari hidupnya? BANYAK. Dan waktu, nggak akan pernah bisa kembali. Mau beli di
mana pun, juga nggak ada yang jual. Karena ketika waktu sudah
terlewatkan, semua yang mengikutinya akan menjadi sejarah dan tidak bisa kita
meminta waktu untuk kembali.
Muda, merupakan
waktunya manusia tumbuh. Melihat banyak kesalahan di sekitarnya, dan tidak
membuat kesalahan yang sama. Muda, merupakan waktunya manusia berpikir. Melihat
banyak kenakalan di sekitarnya, dan berusaha supaya tidak perlu mengalaminya
untuk bisa menjadi ‘berpengalaman’. Belajarlah dari pengalaman. Pengalaman
nggak harus selalu kita yang alamin. Nggak selalu harus diri sendiri yang
mengalami kebodohan yang sama kan?
Sayang, untuk bisa
mendapatkan banyak pengalaman, kamu ngga perlu kehilangan banyak hal baik yang
ada di dalam dirimu. Siapa yang mengharuskan hal seperti itu? Siapa yang bikin
hukumnya? Nggak ada. Anggap lah saya cupu atau cemen. Di usia segini saya nggak
pernah mencoba merokok, nggak pernah sama sekali minum minuman beralkohol,
nggak pernah pacaran yang aneh-aneh. Dan memang nggak pernah sama sekali merasa
hal-hal macam itu keren di mata saya. Tapi bukan berarti saya nggak
berpengalaman. Pengalaman dapat saya lihat di kehidupan dimana saya berada—dimana
kaki saya pijakkan.
Ketika saya berumur 12 tahun, saya pernah melihat putau dan
shabu-shabu. Saya pernah melihat teman saya saling tonjok cuma karena mereka
lagi mabok. Melihat orang yang gila karena kecanduan narkoba, yang tanpa sadar
menyayat-nyayat tubuhnya sendiri, lalu diisap darahnya karena memang darahnya
sudah mengandung narkoba. Berapa banyak orang yang pernah menangis pada saya
karena hamil di luar nikah? Berapa banyak perempuan yang akhirnya jadi ‘murah’
karena sudah pernah melakukan seksualitas diluar nikah dengan pasangannya—yang
ternyata berengsek? Tidak terhitung. Hmm.. Kalau masih takut mati, maka
hiduplah baik-baik.
Banyak sekali hal buruk yang memberi keburukan dalam hidup saya.
Padahal saya, tidak melakukan apa pun yang buruk pada hidup saya sendiri. Kamu
tahu, itulah jahatnya hal-hal buruk. Tanpa kamu sadari, hal-hal buruk tersebut
ikut melukai banyak orang tidak bersalah yang ada di sekitarmu. Tidak lagi
hanya berhubungan dengan hidupmu sendiri. Banyak keputusanmu yang salah, pada
akhirnya menghancurkan banyak hati—selain hatimu sendiri.
Dan kenapa saya ingin memiliki pasangan yang setia?
Karena pada akhirnya, kamu perlu hidup bersama dia yang akan
rela mencebokimu saat kamu sakit. Menuntunmu saat kamu tidak bisa berjalan.
Mendoakanmu saat hidupmu tengah sempit. Dan tetap mencintaimu setelah banyak
kekecewaan yang terjadi dalam kehidupan kalian.
Menikah, bukan hanya
perkara kamu dan dia. Tapi juga perkara hidup anak-anakmu. Menikahlah dengan
dia yang mau sama-sama tumbuh menjadi orangtua yang semestinya. Dan menjadi
pasangan yang setia menggenggammu apa pun yang terjadi.
Siapa pun bisa menjadi
pembohong dalam kehidupanmu. Bahkan orang yang paling kamu cintai sekali pun.
Saya pernah dibohongi yang begitu besar, kebohongan yang bisa jadi alasan saya
untuk merusak diri saya sendiri. Tapi saya tidak perlu melakukan kebohongan
yang sama untuk menunjukkan bahwa saya tengah terluka. Saya tidak perlu terjun
ke jurang yang sama, hanya untuk menunjukkan bahwa saya juga mampu bertahan
dalam kehancuran.
Dewasa adalah saat
kamu mampu tetap hidup dengan baik, seperapa pun banyak kotoran yang dilemparkan
manusia lain ke wajahmu. Kedewasaan, bukanlah soal seberapa lama sudah kamu
hidup di dunia ini. Kedewasaan terjadi saat kamu tidak merasa lebih dewasa dari
orang di sekitarmu. Sehingga kamu mampu melihat lebih banyak, mempelajari lebih
banyak, dan menjadi lebih besar tanpa mengecilkan orang lain.
Baiklah, kembali lagi ke
pasangan. Seberapa pun ganteng, kaya, pinter, tajir pasanganmu. Kalau dia nggak
‘taqwa’—segalanya bisa hilang. SEGALANYA. Bahkan, dia bisa membuatmu kehilangan
dirimu sendiri.
Kalau saya sih selalu
ingin punya anak yang bisa belajar sholat dan mengaji dari orangtuanya sendiri.
Bisa belajar kebijaksanaan dari ayahnya, bisa belajar kasih dan sayang dari
ibunya. Dan bisa belajar kejujuran dari kedua orangtuanya. Salah satu mimpi yang sangat sekali ingin
saya wujudkan.
Berlaku di agama apa
pun sepertinya, teman saya yang beragama lain tapi patuh sama Tuhan-Nya juga keren-keren,
cantik, ganteng, cakep semua kok.
Allah-nya saya, paling
benci sama manusia yang merasa lebih beriman dari manusia lain. Rosul saya
Muhammad selalu berpesan tentang kehidupan bahwa kalau mau hidup tenang, maka
urusan dunia lihatnya ke bawah, sedang urusan ibadah lihatnya ke atas.
Kita bisa pergi
kemana-mana naik motor bersyukur, oranglain masih banyak yang harus jalan kaki
karena nggak punya kendaran. Kita bisa pergi kemana-mana jalan kaki bersyukur,
oranglain ada yang lagi sakit dan nggak bisa jalan.
Kita bisa makan dengan
lauk 3x sehari, bersyukur, oranglain masih banyak yang hanya makan tidak genap
3x sehari—bahkan ada yang untuk makan saja kesulitan. Teman bisa sholat 5 waktu
padahal sibuk minta ampun, kita juga harusnya bisa sholat 5 waktu tepat waktu
karena punya waktu lebih untuk melakukannya. Teman bisa puasa sunnah Senin Kamis
padahal pekerjaannya melelahkan dan jadwalnya sangat padat, berarti kita juga
pasti bisa melakukannya, karena kita rutin kuliah di ruangan ber-AC.
Yuk mari, sama-sama
belajar hidup yang tenang. Semoga suatu
ketika, kita pun dipertemukan dengan pasangan yang selalu mampu
‘menenangkan’ kita. Sesuai apa yang kita inginkan dan sesuai doa yang kita
angkasakan kepada Tuhan.
Oya, kamu boleh saja sependapat
atau tidak sependapat dengan saya. Karena kita memiliki hidup kita
masing-masing.
Semoga seperti apa
pasangan yang kita harapkan dapat sesuai dengan apa yang kita dapatkan dari
Tuhan. Mari berbenah dan hidup dengan baik-baik.