Lima September dua ribu dua belas
Tampak jejak langkah sang asa yang sedang berpijak. Entah kenapa menumbuhkan bahagia yang beranakpinak. Jumpa waktu singkat itu. Hmm.. sembilan puluh enam jam bersamanya, aku terpesona rona sosoknya. Si putra Jogja (lagi).
Tuhan.. baru kali ini kurasa hati yang sedang mendamba. Tak karuan rasanya. Dia istimewa.
Tuhan..
Bila memang izinMu Kau untukkan padaku, jadikan ia imam dalam rakaat kehidupanku.
Tuhan..
Dia yang pertama menelusur hati dalam alunan syahdu kasihMu dalam hatiku.
Mungkin semesta terheran padaku. Sebeginikah rasaku untuknya? Waktu yang singkat seperti ini kah?
Yaa.. Sependek waktu itu dapat kurasakan bahwa tumbuh rasa cinta dihatiku. Ya, aku yakin itu.
Memang tak pernah ada rasa suka terhadap yang lainnya.
Hmm.. Kernyitan dahi semesta sedang terjadi.
Tuhan..
Aku sungguh mengaguminya.
Aku malu mengatakan padanya.
Dan rasa ini hanya kusimpan.
Apa mungkin ini karena baru pertama kurasa damba?
Tuhan..
Berjuta tanda tanya memenuhi otakku.
Aku tau ini namanya rasa cinta.
Aku salah tingkah dan bimbang dalamnya.
Aku tak tau harus bagaimana.
Aku hanya selalu menyertakan ia dalam syair doaku yang mengangkasa.
Kemudian sebagian kecil semesta meng-aamiin-kannya.
Aku menyayanginya..
Semoga doaku Kau ridhoi, Tuhan..
Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar