Enam September dua ribu dua belas
Surup sayup kami masih bersama. Ya, bocah forum yang lalu pernah aku bahas.
Dia, si putra Jogja. Bersama orang yang tak tau pula apa maksud dari kedekatan mereka. Bercanda bersama, bersuka ria. Insan mana yang tak ingin didamba dari orang yang sedang ia damba?
Hmm tapi.. Siapakah aku? Pantaskah cemburuinya? Ah, tidak tidak. Aku hanya ingin cemburu pada mereka yang lebih dari aku.
Terkesan sombong memang. Tapi memang seperti itulah aku. Dengan itu membuat aku jadi tenang dan optimis.
Tuhan sedikit menyentil hatiku. Ia mengingatkan bahwa segala sesuatunya yang kererlaluan itu tak apik. Aku menyadarinya. Aku tak boleh lengah dengan keadaan dan terlena dalam suasana damba ini. Aku memang sayang dia, tapi tak lebih sayangku untuk Tuhan.
Terimakasih Tuhan..
Entahlah.. Biarkan tangan Tuhan memantaskan bagaimana harusnya dan semoga waktu yang menjawab semua ini.
Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar