Bagaimana kalau yang disayang sudah tak lagi bersamamu?
Pernahkah kamu merasakan hal itu?
Pernahkah kamu merasakan rasa yang benar-benar hancur?
Ketika orang yang kamu sayang iu pergi tak tau alasan dan tidak ada kejelasan mengapa dia melenggang. Menyakitkan bukan?
Iya.
Tidak tau kenapa tiba-tiba orang yang disayangi berubah. Tak lagi menemani kita. Tak lagi menjadi nyaman utuk kita. Tak lagi menjadi dianya kita.
Sudahlah. Mungkin dia jenuh.
Mungkin dia sedang menginginkan kesendirian.
Mungkin dia sedang tidak ingin bersama kita.
Tapi yang menjadi masalah saat ini, Bisakah hati ini terus-terusan untuk di diamkan?
Jawabannya TIDAK
Hati ini tidak bisa di diamkan. Rindu selalu gaduh. Rindu selalu rewel. Rindu ini susah untuk di jinakkan.
Setidaknya bisakah sedikit untuk mengerti bagaimana rasanya hati ini.
Tak berharap lebih. Hanya saja diam tidak bisa menyelesaikan hal yang runyam.
Perlakukan siapapun selayaknya seperti apa kita ingin mendapatkan apa yang kita dapatkan.
Hadirmu itu menguatkan, karena adamu pula aku bertahan.
Rabu, 28 September 2016
Minggu, 18 September 2016
Perempuan Laut yang Merindukan Laki-laki Gunung
Bagaimana bisa aku mengabaikan pesona kemandirianmu bercocok tanam, menebar benih-benih rindu ke ladang hatiku?
Dan bagaimana bisa pula aku menyangkal bahwa lahan-lahan kering ladang hatimu telah tersiram penghujan kenyamanan darimu?
Ujung sabit tiba-tiba menyayat. Luka yang di goreskan ke kepalaku oleh waktu dan jarak, belum sempat mengering. Luka-luka yang menciptakan kenangan, atau bahkan mungkin kenangan-kenangan yang menciptakan luka.
Bagaimana bisa aku tak merasakan sakit?
Aku letih.
Betapa keras deburan ombak gelombang pasang yang sengaja dibentur-benturkan menuju karang.
Benturan keras karang menyisakan perih yang mengena pada luka dan tersiram air laut yang bergaram.
Keelokan semesta yang bisa mengerti apakah luka akan kering atau bahkan menciptakan luka baru setelah entah kapan kita dipertemukan kembali.
Hanya bagian ingatanku yang mengingatmu, tak pernah menjelma semesta.
Tetapi bagaimana bisa aku tak merasakan sakit?
Kau laki-laki gunung, sementara aku perempuan laut.
Kirimkan isyarat angin meski kita entah akan berjumpa atau bersayonara.
Dan bagaimana bisa pula aku menyangkal bahwa lahan-lahan kering ladang hatimu telah tersiram penghujan kenyamanan darimu?
Ujung sabit tiba-tiba menyayat. Luka yang di goreskan ke kepalaku oleh waktu dan jarak, belum sempat mengering. Luka-luka yang menciptakan kenangan, atau bahkan mungkin kenangan-kenangan yang menciptakan luka.
Bagaimana bisa aku tak merasakan sakit?
Aku letih.
Betapa keras deburan ombak gelombang pasang yang sengaja dibentur-benturkan menuju karang.
Benturan keras karang menyisakan perih yang mengena pada luka dan tersiram air laut yang bergaram.
Keelokan semesta yang bisa mengerti apakah luka akan kering atau bahkan menciptakan luka baru setelah entah kapan kita dipertemukan kembali.
Hanya bagian ingatanku yang mengingatmu, tak pernah menjelma semesta.
Tetapi bagaimana bisa aku tak merasakan sakit?
Kau laki-laki gunung, sementara aku perempuan laut.
Kirimkan isyarat angin meski kita entah akan berjumpa atau bersayonara.
Sabtu, 03 September 2016
September yang ke Tiga
Surakarta, 1 September 2016.
Sudah 1 September kita yang ketiga, Mas.
Tiga tahun lalu, aku hanya perempuan patah hati yang sekadar mencari pelarian dan menjaga benteng penantian untuk laki-laki yang memberanikan diri memilih si bawel ini menjadi pujaan hati. Mencari kesibukan untuk melupakan segala kenangan yang ingin dilupakan. Melakukan banyak hal bodoh untuk sekadar mencari tenang dari keriuhan yang begitu ramai di dalam kepalaku sendiri.
Lalu beruntungnya, aku bertemu kamu. Laki-laki yang di dirinya terdapat mantera yang menyihirku dengan segala nyaman yang ada. Pencipta tenang bagi hatiku yang kesepian. Alasan yang dianugerahkan Tuhan agar aku selalu menganakpinakkan semangat dan membesarkan sabar untuk berjuang. Bahkan yang ku kagumi darimu, dalam diam dan riuhmu selalu kamu batinkan doa yang mengangkasa untuk kita dan semesta. Belajar bersyukur dengan kemandirian-kemandirian dan apapun yang kamu punyai.
Terima kasih telah hadir, kau datang tepat saat aku sedang merasa teramat kesepian.
Aku juga menyayangimu.
Langganan:
Postingan (Atom)