Ini secuil cerita tentang laki-laki saya...
Saya selalu menyukai ritual membunuh rindu bersamanya. Laki-laki saya. Seperti anak kecil yang pulang ke
rumah setelah seharian bermain bersama teman-teman. Seperti anak kecil yang setelah hujan-hujanan, dimandikan mamanya kemudian disusguhi susu putih hangat. Sangat nyaman dan hangat. Dia adalah hadiah atas (kalau
saya boleh narsis) kesabaran saya terhadap waktu yang saya yakini menjanjikan dia atas doa saya yang mengangkasa. Laki-laki saya adalah
pengingat dari Tuhan bahwa saya sudah seharusnya bersyukur atas nikmat
yang diberikan.
Laki-laki saya jarang sekali marah
padahal saya bawel dan suka rewel bahkan ia sangat sabar karena saya memiliki suasana hati yang sering berubah-ubah.
Laki-laki saya memang
mendidik dirinya sendiri untuk selalu jujur, maka dia tidak pernah membohongi saya.
Ia selalu mengatakan saya
cantik padahal saya tidak cantik. Dia selalu mengingatkan saya untuk
makan padahal itu kode dia untuk mengajak saya makan bersama.
Laki-laki saya selalu bilang kalau apa yang ada di kepala saya begitu menyenangkan
baginya padahal saya sendiri sering mati bosan dengan hal-hal yang saya
pikirkan. Dia pandai dan mampu membuat saya merasa cantik, merasa
pandai, merasa percaya diri, dan merasa lebih baik.
Laki-laki saya mampu membuang jauh rasa sedih saya ketika saya menangis sesenggukan karena merasa terlalu lemah dalam menghadapi kenyataan. Dia mengatakan bahwa saya kuat, padahal saya sering menemukan diri saya menyerah pada
keadaan. Dia mampu membuat saya percaya untuk menjulurkan tangan dan
menerima bantuannya saat saya terjatuh dan malas untuk bangkit sendiri.
Laki-laki saya selalu memaafkan meski
saya sering menemukan kesalahan diri sendiri begitu memalukan. Laki-laki
saya adalah kekuatan yang saya ingat saat saya begitu tenggelam dalam
kelemahan. Dia pelita dalam keremangan. Rembulan di langit malam.
Saya pernah begitu marah pada diri
sendiri karena merasa begitu tolol dan terlalu banyak cemburu. Laki-laki
saya mau repot-repot meyakinkan bahwa saya tidaklah seburuk yang saya
pikirkan. Saya pernah salah, dan ia tidak pernah menolak untuk
memperbaiki. Saya pernah sakit, dan laki-laki saya tidak pernah menghindar
untuk menemani.
Laki-laki saya seorang yang penyabar, dan itu membuat saya
meniru kesabarannya. Dia tenang yang menenangkan. Dia meneduhkan. Dia tahu
kapan harus memperlakukan saya sebagai seorang adik kecil atau sebagai
seorang perempuan dewasa yang dia butuhkan.
Teruntuk kamu, terima kasih untuk 635 hari ini. Mari menghitung lebih banyak lagi.

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar