Senin, 27 April 2015

Laki-laki Saya


Ini secuil cerita tentang laki-laki saya...

Saya selalu menyukai ritual membunuh rindu bersamanya. Laki-laki saya. Seperti anak kecil yang pulang ke rumah setelah seharian bermain bersama teman-teman. Seperti anak kecil yang setelah hujan-hujanan, dimandikan mamanya kemudian disusguhi susu putih hangat. Sangat nyaman dan hangat. Dia adalah hadiah atas (kalau saya boleh narsis) kesabaran saya terhadap waktu yang saya yakini menjanjikan dia atas doa saya yang mengangkasa. Laki-laki saya adalah pengingat dari Tuhan bahwa saya sudah seharusnya bersyukur atas nikmat yang diberikan.

Laki-laki saya jarang sekali marah padahal saya bawel dan suka rewel bahkan ia sangat sabar karena saya memiliki suasana hati yang sering berubah-ubah.

Laki-laki saya memang mendidik dirinya sendiri untuk selalu jujur, maka dia tidak pernah membohongi saya.

Ia selalu mengatakan saya cantik padahal saya tidak cantik. Dia selalu mengingatkan saya untuk makan padahal itu kode dia untuk mengajak saya makan bersama. Laki-laki saya selalu bilang kalau apa yang ada di kepala saya begitu menyenangkan baginya padahal saya sendiri sering mati bosan dengan hal-hal yang saya pikirkan. Dia pandai dan mampu membuat saya merasa cantik, merasa pandai, merasa percaya diri, dan merasa lebih baik.

Laki-laki saya mampu membuang jauh rasa sedih saya ketika saya menangis sesenggukan karena merasa terlalu lemah dalam menghadapi kenyataan. Dia mengatakan bahwa saya kuat,  padahal saya sering menemukan diri saya menyerah pada keadaan. Dia mampu membuat saya percaya untuk menjulurkan tangan dan menerima bantuannya saat saya terjatuh dan malas untuk bangkit sendiri.

Laki-laki saya selalu memaafkan meski saya sering menemukan kesalahan diri sendiri begitu memalukan. Laki-laki saya adalah kekuatan yang saya ingat saat saya begitu tenggelam dalam kelemahan. Dia pelita dalam keremangan. Rembulan di langit malam.

Saya pernah begitu marah pada diri sendiri karena merasa begitu tolol dan terlalu banyak cemburu. Laki-laki saya mau repot-repot meyakinkan bahwa saya tidaklah seburuk yang saya pikirkan. Saya pernah salah, dan ia tidak pernah menolak untuk memperbaiki. Saya pernah sakit, dan laki-laki saya tidak pernah menghindar untuk menemani.


Laki-laki saya seorang yang penyabar, dan itu membuat saya meniru kesabarannya. Dia tenang yang menenangkan. Dia meneduhkan. Dia tahu kapan harus memperlakukan saya sebagai seorang adik kecil atau sebagai seorang perempuan dewasa yang dia butuhkan.

Teruntuk kamu, terima kasih untuk 635 hari ini. Mari menghitung lebih banyak lagi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar