Dan bagaimana bisa pula aku menyangkal bahwa lahan-lahan kering ladang hatimu telah tersiram penghujan kenyamanan darimu?
Ujung sabit tiba-tiba menyayat. Luka yang di goreskan ke kepalaku oleh waktu dan jarak, belum sempat mengering. Luka-luka yang menciptakan kenangan, atau bahkan mungkin kenangan-kenangan yang menciptakan luka.
Bagaimana bisa aku tak merasakan sakit?
Aku letih.
Betapa keras deburan ombak gelombang pasang yang sengaja dibentur-benturkan menuju karang.
Benturan keras karang menyisakan perih yang mengena pada luka dan tersiram air laut yang bergaram.
Keelokan semesta yang bisa mengerti apakah luka akan kering atau bahkan menciptakan luka baru setelah entah kapan kita dipertemukan kembali.
Hanya bagian ingatanku yang mengingatmu, tak pernah menjelma semesta.
Tetapi bagaimana bisa aku tak merasakan sakit?
Kau laki-laki gunung, sementara aku perempuan laut.
Kirimkan isyarat angin meski kita entah akan berjumpa atau bersayonara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar