Minggu, 13 September 2015

Ingin Pasangan Seperti Apa?

Banyak orang yang kalau ditanya ingin pasangan seperti apa, maka jawabannya bisa nggak cukup kalau ditulis di selembar kertas saja. Kalau saya ditanya pertanyaan yang sama, jawaban saya cukup 2 kata, yakni: Setia dan taqwa.

Pipin, nggak mau cowok yang kaya?

Ya mau, tapi saya udah pernah ngerasain hidup banyak uang tapi nggak bahagia. Rejeki yang cukup saja, cukup buat liburan dan buat sekolahin anak, tapi kalau dikasih yang lebih ya Alhamdulillah.

Pipin, nggak mau punya cowok ganteng?

Ya mau, tapi nggak perlu seganteng Abimana Aryasatya juga. Yang cukup buat saya tatap setiap saya bangun tidur aja. Lagi juga jaman sekarang, kebanyakan yang ganteng sukanya juga sama yang ganteng. Eh.

Pipin, ­nggak pengen punya cowok pinter?

Kalau dia taqwa, dia pasti pandai. Karena dia tahu, salah satu amalan yang tidak akan terputus walau seseorang sudah meninggal adalah “ilmu yang bermanfaat”.

Pipin, tapi kebanyakan cowok taqwa kan nggak cool, Pin! 

Pikiran kayak begini yang bikin banyak orang nggak mau lagi jadi taqwa. Karena bahkan sesama muslim di sekitarnya, menganggap yang taqwa itu ya 'kolot dan aneh'. Hmm. Cukup mengherankan.

Saya pernah dengar cerita dari teman yakni tentang salah satu alasan Sacha Stevenson (youtub-er bule yang sekarang jadi entertain di Indonesia) membuka jilbabnya. Dulu waktu dia masih di Canada, orang di sekitarnya selalu mandang dia teroris dan aneh karena dia memakai jilbab. Sampai akhirnya dia pindah ke Indonesia, ke negara yang mayoritas muslim, tapi ternyata dia masih selalu mendapat perlakuan diskriminasi. Sacha susah mendapatkan pekerjaan di Indonesia, susah diterima di lingkungan barunya, dan banyak mendapatkan kesulitan lain. Padahal, dia sedang tinggal di negara yang mayoritas muslim. Hmm. Sedih.

Mungkin itu mengapa di kepala anak jaman sekarang--anak muda yang taqwa itu kampungan dan nggak cool.

Ya kalau yang memandang begitu anak baru gede--anak SMP/SMA/Awal kuliah saya kira saya masih bisa paham. Soalnya ya masih belum memiliki pengalaman yang lebih di hidupnya. Masih berperinsip, muda itu waktunya jadi bandel dan nakal. Muda itu waktunya bikin salah sebanyak-banyaknya. Sampai lupa, kalau nggak ada yang pernah ngasih jaminan, kalau semua orang bisa selamat melewati masa nakalnya.

Taqwa itu seharusnya yaa pandai mengikuti perkembangan jaman. Karena pengetahuannya luas, karena hatinya luas, karena pikirannya nggak sempit, karena mampu menilai dan melihat masalah tidak hanya pada satu sudut pandang saja.

Biarkan saya bercerita padamu, saya punya teman yang dulu pernah nyobain segala mancam salah, pernah nyobain segala macam bentuk kenakalan, sampai dia nyaris kehilangan nyawanya sendiri. Dan apa yang dia dapatkan? NGGAK ADA. Dan apa yang hilang dari hidupnya? BANYAK. Dan waktu, nggak akan pernah bisa kembali. Mau beli di mana pun, juga nggak ada yang jual. Karena ketika waktu sudah terlewatkan, semua yang mengikutinya akan menjadi sejarah dan tidak bisa kita meminta waktu untuk kembali.

Muda, merupakan waktunya manusia tumbuh. Melihat banyak kesalahan di sekitarnya, dan tidak membuat kesalahan yang sama. Muda, merupakan waktunya manusia berpikir. Melihat banyak kenakalan di sekitarnya, dan berusaha supaya tidak perlu mengalaminya untuk bisa menjadi ‘berpengalaman’. Belajarlah dari pengalaman. Pengalaman nggak harus selalu kita yang alamin. Nggak selalu harus diri sendiri yang mengalami kebodohan yang sama kan?

Sayang,  untuk bisa mendapatkan banyak pengalaman, kamu ngga perlu kehilangan banyak hal baik yang ada di dalam dirimu. Siapa yang mengharuskan hal seperti itu? Siapa yang bikin hukumnya? Nggak ada. Anggap lah saya cupu atau cemen. Di usia segini saya nggak pernah mencoba merokok, nggak pernah sama sekali minum minuman beralkohol, nggak pernah pacaran yang aneh-aneh. Dan memang nggak pernah sama sekali merasa hal-hal macam itu keren di mata saya. Tapi bukan berarti saya nggak berpengalaman. Pengalaman dapat saya lihat di kehidupan dimana saya berada—dimana kaki saya pijakkan.

Ketika saya berumur 12 tahun, saya pernah melihat putau dan shabu-shabu. Saya pernah melihat teman saya saling tonjok cuma karena mereka lagi mabok. Melihat orang yang gila karena kecanduan narkoba, yang tanpa sadar menyayat-nyayat tubuhnya sendiri, lalu diisap darahnya karena memang darahnya sudah mengandung narkoba. Berapa banyak orang yang pernah menangis pada saya karena hamil di luar nikah? Berapa banyak perempuan yang akhirnya jadi ‘murah’ karena sudah pernah melakukan seksualitas diluar nikah dengan pasangannya—yang ternyata berengsek? Tidak terhitung. Hmm.. Kalau masih takut mati, maka hiduplah baik-baik.

Banyak sekali hal buruk yang memberi keburukan dalam hidup saya. Padahal saya, tidak melakukan apa pun yang buruk pada hidup saya sendiri. Kamu tahu, itulah jahatnya hal-hal buruk. Tanpa kamu sadari, hal-hal buruk tersebut ikut melukai banyak orang tidak bersalah yang ada di sekitarmu. Tidak lagi hanya berhubungan dengan hidupmu sendiri. Banyak keputusanmu yang salah, pada akhirnya menghancurkan banyak hati—selain hatimu sendiri.

Dan kenapa saya ingin memiliki pasangan yang setia?

Karena pada akhirnya, kamu perlu hidup bersama dia yang akan rela mencebokimu saat kamu sakit. Menuntunmu saat kamu tidak bisa berjalan. Mendoakanmu saat hidupmu tengah sempit. Dan tetap mencintaimu setelah banyak kekecewaan yang terjadi dalam kehidupan kalian.

Menikah, bukan hanya perkara kamu dan dia. Tapi juga perkara hidup anak-anakmu. Menikahlah dengan dia yang mau sama-sama tumbuh menjadi orangtua yang semestinya. Dan menjadi pasangan yang setia menggenggammu apa pun yang terjadi.

Siapa pun bisa menjadi pembohong dalam kehidupanmu. Bahkan orang yang paling kamu cintai sekali pun. Saya pernah dibohongi yang begitu besar, kebohongan yang bisa jadi alasan saya untuk merusak diri saya sendiri. Tapi saya tidak perlu melakukan kebohongan yang sama untuk menunjukkan bahwa saya tengah terluka. Saya tidak perlu terjun ke jurang yang sama, hanya untuk menunjukkan bahwa saya juga mampu bertahan dalam kehancuran.

Dewasa adalah saat kamu mampu tetap hidup dengan baik, seperapa pun banyak kotoran yang dilemparkan manusia lain ke wajahmu. Kedewasaan, bukanlah soal seberapa lama sudah kamu hidup di dunia ini. Kedewasaan terjadi saat kamu tidak merasa lebih dewasa dari orang di sekitarmu. Sehingga kamu mampu melihat lebih banyak, mempelajari lebih banyak, dan menjadi lebih besar tanpa mengecilkan orang lain.

Baiklah, kembali lagi ke pasangan. Seberapa pun ganteng, kaya, pinter, tajir pasanganmu. Kalau dia nggak ‘taqwa’—segalanya bisa hilang. SEGALANYA. Bahkan, dia bisa membuatmu kehilangan dirimu sendiri.

Kalau saya sih selalu ingin punya anak yang bisa belajar sholat dan mengaji dari orangtuanya sendiri. Bisa belajar kebijaksanaan dari ayahnya, bisa belajar kasih dan sayang dari ibunya. Dan bisa belajar kejujuran dari kedua orangtuanya. Salah satu mimpi yang sangat sekali ingin saya wujudkan.

Berlaku di agama apa pun sepertinya, teman saya yang beragama lain tapi patuh sama Tuhan-Nya juga keren-keren, cantik, ganteng, cakep semua kok.

Allah-nya saya, paling benci sama manusia yang merasa lebih beriman dari manusia lain. Rosul saya Muhammad selalu berpesan tentang kehidupan bahwa kalau mau hidup tenang, maka urusan dunia lihatnya ke bawah, sedang urusan ibadah lihatnya ke atas.

Kita bisa pergi kemana-mana naik motor bersyukur, oranglain masih banyak yang harus jalan kaki karena nggak punya kendaran. Kita bisa pergi kemana-mana jalan kaki bersyukur, oranglain ada yang lagi sakit dan nggak bisa jalan.

Kita bisa makan dengan lauk 3x sehari, bersyukur, oranglain masih banyak yang hanya makan tidak genap 3x sehari—bahkan ada yang untuk makan saja kesulitan. Teman bisa sholat 5 waktu padahal sibuk minta ampun, kita juga harusnya bisa sholat 5 waktu tepat waktu karena punya waktu lebih untuk melakukannya. Teman bisa puasa sunnah Senin Kamis padahal pekerjaannya melelahkan dan jadwalnya sangat padat, berarti kita juga pasti bisa melakukannya, karena kita rutin kuliah di ruangan ber-AC.

Yuk mari, sama-sama belajar hidup yang tenang. Semoga suatu ketika, kita pun dipertemukan dengan pasangan yang selalu mampu ‘menenangkan’ kita. Sesuai apa yang kita inginkan dan sesuai doa yang kita angkasakan kepada Tuhan.

Oya, kamu boleh saja sependapat atau tidak sependapat dengan saya. Karena kita memiliki hidup kita masing-masing.


Semoga seperti apa pasangan yang kita harapkan dapat sesuai dengan apa yang kita dapatkan dari Tuhan. Mari berbenah dan hidup dengan baik-baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar