Siang terik
mengawasi kegiatanku kala itu. Suara motor di jalan raya dan bunyi klakson
bersautan tak karuan. Semakin gaduh pikiran yang ku miliki. Berjalan di tengah
terik matahari dan memikirkan hal yang sangat tidak ingin aku alami. Seorang
lelaki duduk di teras toko sambil membawa seplastik es sedot lalu menyapa, “Hai, Mi. Darimana mau kemana? Kok sendirian
aja?”
“Haha. Dari kontrakan mau ke gedung pertemuan, Yan.
Kamu nggak kesana?”, Jawabku
untuk Trian sambil mengernyitkan dahi, kepanasan.
“Nanti, aku nyusul.”, Jawabnya.
“Ya, sampai ketemu di gedung pertemuan.” Ku lambaikan
tangan kananku menujunya. Dibalas dengan memberi sesimpul senyum yang manis
dari bibirnya.
Sepertinya
matahari memang sedang semangat-semangatnya bekerja. Dag-dig-dug detak
jantungku ketika seseorang yang ku candu akan mengaguminya menyapaku tanpa ada
kata jutek seperti biasanya. Ada apa ini semua? Pertanyaan yang membuatku heran
muncul berulang-ulang.
Di
sebuah ruangan yang cukup luas, dengan berderet kursi penonton dan disampingnya
terdapat sebuah ruangan kecil berukuran 2,5 x 2,5 meter. Di dalamnya terdapat
penataan ruang rapat yang tidak begitu resmi. Disanalah kami, si penata ruangan
dan desain panggung, biasa berkumpul. Bergurau dengan hangat dan seperti tidak
ada beban. Seketika saat aku mau keluar ruangan membuka pintu, Trian pun
membuka pintu hendak masuk. Kami berhadapan dan saling berjawab pandangan mata.
Tiba-tiba ia tersenyum padaku, menunjukkan salah satu hal yang aku kagumi
darinya.
“Mendung.”
Seketika aku memutuskan menyebut ia
Mendung. Nama itu ku sebut untuknya yang aku cintai selama ini. Semenjak aku
berada di sini, Surakarta. Pertama ku mengenalnya di sebuah kelompok mahasiswa
yang kegiatannya sangatlah mengasyikkan.
Dia selalu
menyejukkan.
Dia sederhana,
namun istimewa.
Semakin lama dan
semakin lama, perasaan yang ku rasakan semakin aku sadari. Bahwa aku
benar-benar dan sungguh-sungguh mencintainya. Pun menyayanginya.
Mendung.
Setiap aku
bertemu dengannya, yang kurasa seketika seluruh dunia ini menjadi redup, teduh,
dan menenangkan.
Ya, tepatnya
sebulan yang lalu, ku namai ia dengan nama yang mungkin termakna aneh. Sampai
waktu ketika aku dan dia benar-benar dipertemukan pada suatu pokok masalah yang
entah sebenarnya siapa yang salah.
Aku? Perasaanku?
Ataukah dia yang masuk dalam kehidupanku?
Entahlah..
Di suatu senja,
taman kampus itu, menjadi suasana yang menghiasi keberadaan kami berdua. Kami
saling berpandangan, sesaat malu, sesaat salah tingkah. Perbincangan yang a-i-u-e-o
kami obrolkan hingga menyangkut pada hal yang tenar di kalangan remaja. Ya,
jatuh cinta. Tanpa sengaja perbincangan kami hingga membahas tentang perasaan
yang akhirnya memojokkanku untuk tidak tau harus berbuat apa. Perbincangan yang
benar-benar menuntutku untuk mengutarakan perasaanku.
Ku katakanan, “Aku mencintaimu.” Dengan lirih dan
memandangnya dengan penuh harap padanya. Berharap ia juga merasakan hal yang
setara denganku.
Sesimpul senyum
diciptakannya.
Mahakarya yang
sangat indah, Tuhan. Sungguh menawan.
“Aku tidak tau apa yang kurasakan saat ini
padamu, Mi. Yang ku rasa selama ini kita dekat hanya karena forum yang kita
ikuti dan kebetulan kita selalu ditempatkan pada kesamaan keahlian. Aku
menganggapmu sebagai adik sekaligus teman yang selalu ada untukku. Dan aku
tidak mungkin dekat atau menyayangimu lebih dari itu, karena temanku terlebih
dahulu menaruh hati untukmu.”
KRAKK!!
Seketika hatiku
tak karuan. Berantakan. Yang kukira ia memberikan perhatian, memberikan senyum
yang indah itu, dia juga membalas apa yang kurasakan. Tapi, ternyata… Ah,
Sudahlah.. tak apa.
“Perhatianku, rasaku, dan sikapku untukmu takkan
berubah, Yan.”
Kataku dalam hati.
“Ku berharap kamu tidak melakukan apa yang
tidak ingin kulihat untukku, Mi. Berhentilah memberi perhatian yang seperti
kemarin untukku, aku tidak menyukainya.” Katanya dengan nada rendah.
Aku diam. Dan
berbicara dalam hati. “Apakah aku bisa?
Trian. Mohon jangan benci aku karena terlalu mencintaimu.”
Aku menyadari
bahwa benar-benar hanya aku yang jatuh cinta. Hanya aku yang merasakan rindu.
Dan hanya aku yang bahagia. Sendiri. Rasa yang sepihak.
Jadi, siapa yang
salah.
Aku? Perasaanku?
Ataukah dia yang masuk dalam kehidupanku?
Entahlah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar