Selasa, 03 Februari 2015

Mohon, Jangan Benci Aku Karena Terlalu Mencintaimu

Siang terik mengawasi kegiatanku kala itu. Suara motor di jalan raya dan bunyi klakson bersautan tak karuan. Semakin gaduh pikiran yang ku miliki. Berjalan di tengah terik matahari dan memikirkan hal yang sangat tidak ingin aku alami. Seorang lelaki duduk di teras toko sambil membawa seplastik es sedot lalu menyapa, “Hai, Mi. Darimana mau kemana? Kok sendirian aja?”
“Haha. Dari kontrakan mau ke gedung pertemuan, Yan. Kamu nggak kesana?”, Jawabku untuk Trian sambil mengernyitkan dahi, kepanasan.
“Nanti, aku nyusul.”, Jawabnya.
“Ya, sampai ketemu di gedung pertemuan.” Ku lambaikan tangan kananku menujunya. Dibalas dengan memberi sesimpul senyum yang manis dari bibirnya.
Sepertinya matahari memang sedang semangat-semangatnya bekerja. Dag-dig-dug detak jantungku ketika seseorang yang ku candu akan mengaguminya menyapaku tanpa ada kata jutek seperti biasanya. Ada apa ini semua? Pertanyaan yang membuatku heran muncul berulang-ulang.
            Di sebuah ruangan yang cukup luas, dengan berderet kursi penonton dan disampingnya terdapat sebuah ruangan kecil berukuran 2,5 x 2,5 meter. Di dalamnya terdapat penataan ruang rapat yang tidak begitu resmi. Disanalah kami, si penata ruangan dan desain panggung, biasa berkumpul. Bergurau dengan hangat dan seperti tidak ada beban. Seketika saat aku mau keluar ruangan membuka pintu, Trian pun membuka pintu hendak masuk. Kami berhadapan dan saling berjawab pandangan mata. Tiba-tiba ia tersenyum padaku, menunjukkan salah satu hal yang aku kagumi darinya.
            “Mendung.”
            Seketika aku memutuskan menyebut ia Mendung. Nama itu ku sebut untuknya yang aku cintai selama ini. Semenjak aku berada di sini, Surakarta. Pertama ku mengenalnya di sebuah kelompok mahasiswa yang kegiatannya sangatlah mengasyikkan.
Dia selalu menyejukkan.
Dia sederhana, namun istimewa.
Semakin lama dan semakin lama, perasaan yang ku rasakan semakin aku sadari. Bahwa aku benar-benar dan sungguh-sungguh mencintainya. Pun menyayanginya.
Mendung.
Setiap aku bertemu dengannya, yang kurasa seketika seluruh dunia ini menjadi redup, teduh, dan menenangkan.

Ya, tepatnya sebulan yang lalu, ku namai ia dengan nama yang mungkin termakna aneh. Sampai waktu ketika aku dan dia benar-benar dipertemukan pada suatu pokok masalah yang entah sebenarnya siapa yang salah.
Aku? Perasaanku? Ataukah dia yang masuk dalam kehidupanku?
Entahlah..
Di suatu senja, taman kampus itu, menjadi suasana yang menghiasi keberadaan kami berdua. Kami saling berpandangan, sesaat malu, sesaat salah tingkah. Perbincangan yang a-i-u-e-o kami obrolkan hingga menyangkut pada hal yang tenar di kalangan remaja. Ya, jatuh cinta. Tanpa sengaja perbincangan kami hingga membahas tentang perasaan yang akhirnya memojokkanku untuk tidak tau harus berbuat apa. Perbincangan yang benar-benar menuntutku untuk mengutarakan perasaanku.
Ku katakanan, “Aku mencintaimu.” Dengan lirih dan memandangnya dengan penuh harap padanya. Berharap ia juga merasakan hal yang setara denganku.
Sesimpul senyum diciptakannya.
Mahakarya yang sangat indah, Tuhan. Sungguh menawan.
Aku tidak tau apa yang kurasakan saat ini padamu, Mi. Yang ku rasa selama ini kita dekat hanya karena forum yang kita ikuti dan kebetulan kita selalu ditempatkan pada kesamaan keahlian. Aku menganggapmu sebagai adik sekaligus teman yang selalu ada untukku. Dan aku tidak mungkin dekat atau menyayangimu lebih dari itu, karena temanku terlebih dahulu menaruh hati untukmu.
KRAKK!!
Seketika hatiku tak karuan. Berantakan. Yang kukira ia memberikan perhatian, memberikan senyum yang indah itu, dia juga membalas apa yang kurasakan. Tapi, ternyata… Ah, Sudahlah.. tak apa.
“Perhatianku, rasaku, dan sikapku untukmu takkan berubah, Yan.” Kataku dalam hati.
Ku berharap kamu tidak melakukan apa yang tidak ingin kulihat untukku, Mi. Berhentilah memberi perhatian yang seperti kemarin untukku, aku tidak menyukainya.” Katanya dengan nada rendah.
Aku diam. Dan berbicara dalam hati. “Apakah aku bisa? Trian. Mohon jangan benci aku karena terlalu mencintaimu.”
Aku menyadari bahwa benar-benar hanya aku yang jatuh cinta. Hanya aku yang merasakan rindu. Dan hanya aku yang bahagia. Sendiri. Rasa yang sepihak.
Jadi, siapa yang salah.
Aku? Perasaanku? Ataukah dia yang masuk dalam kehidupanku?

Entahlah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar