Selasa, 03 Februari 2015

Hallo, Sayang: Untuk Tuan dan Teman.

Kali pertama ketika saya benar-benar yakin bahwa saya jatuh sayang padanya. Saya ingat rasa itu muncul ketika saya masuk sebuah forum kebersamaan yang saya ikuti. Dimana dia adalah orang yang mahir memotivasi dengan caranya yang tersirat. Pertama kali juga saya mengenal dia. Hehe.. (nyengir kuda)

Ehem..

Okelah, saya mulai dengan sapaan “hallo..” saja. Seperti ketika saya pertama bertemu dengannya.

Hallo..

Apa kabar hati yang sedang jatuh?
Bahagia atau pura-pura bahagia atau bahkan kecewa?
Kadang kita memang membutuhkan orang yang bisa membuat kita maju dan mempunyai “greget” untuk melakukan apa yang disebut dengan hal positif.
Yap, tepatnya penyemangat hidup.
Selain orangtua dan sanak saudara, pastinya ada seseorang yang kamu anggap khusus untuk mendapatkan rasa kasih dan sayangmu swekaligus membangun benteng motivasi dan gairah hidup.
Sebut saja Tuan/Puan mu.
Kekasih.
Teman berbincang.
Teman makan.
Teman nonton.
Teman bertukar pikiran.
Teman berdebat.
Teman menangis.
Yaa.. mengisi setiap waktumu.

Oke. Saya mengaku kalah. (angkat tangan).
Saya sedang benar-benar jatuh sayang sama dia. Dia pandai. Pandai menenangkan dan pandai membuat nyaman.
Em.. Suatu waktu ketika saya memohon satu permohonan yang biasanya saya tidak dapat melakukannya dengan baik. Dia dengan caranya sendiri melatih saya supaya bisa dengan mahir seperti yang lainnya.
Saya memang benar-benar menyayanginya. Tapi sayangnya sampai saat ini saya tidak tau bagaimana perasaan dia terhadap saya.

Dari sikap dia memperlakukan saya, saya dapat menilai bahwa juga terdapat rasa sayang dia terhadap saya. Ya, tepat kadarnya berapa saya tidak bisa menjelaskan.

Ehem..
Kita sorot sisi lain. Cling!

Yap. Teman saya sendiri. Dia juga memiliki rasa yang sama terhadap Tuan dimana saya menaruh hati.

Ha? Lalu bagaimana?
(mengernyitkan dahi)

Hehe..
Tak apalah. Mengidolakan orang yang sama bukanlah hal yang keliru. Yang keliru adalah, ketika kita (saya dan teman saya) menyayangi dan jatuh hati pada orang yang sama, kemudian kita berkompetisi untuk mendapatkannya, lalu jika salah satu diantara kita kalah kemudian menyimpan dendam, itu yang tidak baik.
Baiknya, saya dan teman saya tidak seperti itu. Teman saya tahu bahwa saya menyayanginya. Dan saya juga tahu bahwa teman saya menyukai dia yang kutempatkan namanya dihati.
Kami saling mengerti.
Saya memendam rasa ini diam-diam---rasa cemburu benar-benar mebuat pikiran dan hati saya kacau tak karuan (terkadang). Supaya saya dengan teman saya dapat selalu bersama dalam keharmonisan.
Teman saya pun melakukan hal yang sama. Menjaga supaya kami tetap menjadi kami. Hehehe..

Stop! Jangan sampai menilai bahwa kami munafik.
Kami memang menyukai dan mengidolakan seseorang yang sama. Namun, bukan berarti kami harus saling menutupi apa yang kami jalani.

Sportif? Ya. Tepat sekali. Itu yang kami komitmen-kan.

Hmm.. Simpan dulu cerita ini, kita coba lihat dari novel karya Tere Liye yang berjudul Sepotong Hati yang Baru. Sambungkan dengan rasa saya terhadap Tuan (dimana saya menaruh hati). Mengutip dari cerita yang bagian pertama, yakni dengan judul “Hiks, Kupikir Itu Sungguhan” yang intinya adalah jauh-jauhlah dengan yang namanya ke-GR-an. Oke?
Ya,
Saya memang sayang sama dia.. Saya memang jatuh hati kepada dia.. Dia memang memperhatikan saya dengan penuh kasih sayang. Etapikan saya tidak tahu apakah yang dia maksud sayang terhadap saya itu sayang yang seperti saya rasakan terhadapnya. Jadi, jangan GR.
Yakinlah, bahwa yang memang sudah Tuhan padukan perasaanya denganmu, pasti akan padu dan menghasilkan kombinasi yang rapi. Indah serta menenangkan hati.
Teruslah mengangkasakan doa, Tuhan pasti mendengar dan akan mengabulkan dan memberikan yang paling baik untukmu pada waktu yang tepat.

Yakinlah.. Percayalah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar