Kali pertama ketika saya
benar-benar yakin bahwa saya jatuh sayang padanya. Saya ingat rasa itu muncul
ketika saya masuk sebuah forum kebersamaan yang saya ikuti. Dimana dia adalah
orang yang mahir memotivasi dengan caranya yang tersirat. Pertama kali juga
saya mengenal dia. Hehe.. (nyengir kuda)
Ehem..
Okelah, saya mulai
dengan sapaan “hallo..” saja. Seperti ketika saya pertama bertemu dengannya.
Hallo..
Apa
kabar hati yang sedang jatuh?
Bahagia atau pura-pura bahagia atau bahkan kecewa?
Kadang kita memang
membutuhkan orang yang bisa membuat kita maju dan mempunyai “greget” untuk melakukan apa yang disebut
dengan hal positif.
Yap, tepatnya penyemangat
hidup.
Selain orangtua dan
sanak saudara, pastinya ada seseorang yang kamu anggap khusus untuk mendapatkan
rasa kasih dan sayangmu swekaligus membangun benteng motivasi dan gairah hidup.
Sebut saja Tuan/Puan mu.
Kekasih.
Teman berbincang.
Teman makan.
Teman nonton.
Teman bertukar pikiran.
Teman berdebat.
Teman menangis.
Yaa.. mengisi setiap waktumu.
Oke. Saya mengaku kalah. (angkat tangan).
Saya sedang benar-benar
jatuh sayang sama dia. Dia pandai. Pandai menenangkan dan pandai membuat
nyaman.
Em.. Suatu waktu ketika
saya memohon satu permohonan yang biasanya saya tidak dapat melakukannya dengan
baik. Dia dengan caranya sendiri melatih saya supaya bisa dengan mahir seperti
yang lainnya.
Saya memang benar-benar
menyayanginya. Tapi sayangnya sampai saat ini saya tidak tau bagaimana perasaan
dia terhadap saya.
Dari sikap dia
memperlakukan saya, saya dapat menilai bahwa juga terdapat rasa sayang dia
terhadap saya. Ya, tepat kadarnya berapa saya tidak bisa menjelaskan.
Ehem..
Kita sorot sisi lain. Cling!
Yap. Teman saya
sendiri. Dia juga memiliki rasa yang sama terhadap Tuan dimana saya menaruh
hati.
Ha? Lalu bagaimana?
(mengernyitkan dahi)
Hehe..
Tak apalah.
Mengidolakan orang yang sama bukanlah hal yang keliru. Yang keliru adalah,
ketika kita (saya dan teman saya) menyayangi dan jatuh hati pada orang yang
sama, kemudian kita berkompetisi untuk mendapatkannya, lalu jika salah satu
diantara kita kalah kemudian menyimpan dendam, itu yang tidak baik.
Baiknya, saya dan teman
saya tidak seperti itu. Teman saya tahu bahwa saya menyayanginya. Dan saya juga
tahu bahwa teman saya menyukai dia yang kutempatkan namanya dihati.
Kami saling mengerti.
Saya memendam rasa ini
diam-diam---rasa cemburu benar-benar mebuat pikiran dan hati saya kacau tak
karuan (terkadang). Supaya saya dengan teman saya dapat selalu bersama dalam keharmonisan.
Teman saya pun
melakukan hal yang sama. Menjaga supaya kami tetap menjadi kami. Hehehe..
Stop! Jangan sampai menilai bahwa kami munafik.
Kami memang menyukai
dan mengidolakan seseorang yang sama. Namun, bukan berarti kami harus saling
menutupi apa yang kami jalani.
Sportif? Ya. Tepat sekali. Itu yang kami
komitmen-kan.
Hmm.. Simpan dulu
cerita ini, kita coba lihat dari novel karya Tere Liye yang berjudul Sepotong
Hati yang Baru. Sambungkan dengan rasa saya terhadap Tuan (dimana saya menaruh
hati). Mengutip dari cerita yang bagian pertama, yakni dengan judul “Hiks,
Kupikir Itu Sungguhan” yang intinya adalah jauh-jauhlah dengan yang namanya
ke-GR-an. Oke?
Ya,
Saya memang sayang sama
dia.. Saya memang jatuh hati kepada dia.. Dia memang memperhatikan saya dengan
penuh kasih sayang. Etapikan saya tidak tahu apakah yang dia maksud sayang
terhadap saya itu sayang yang seperti saya rasakan terhadapnya. Jadi, jangan GR.
Yakinlah, bahwa yang
memang sudah Tuhan padukan perasaanya denganmu, pasti akan padu dan
menghasilkan kombinasi yang rapi. Indah serta menenangkan hati.
Teruslah mengangkasakan
doa, Tuhan pasti mendengar dan akan mengabulkan dan memberikan yang paling baik
untukmu pada waktu yang tepat.
Yakinlah.. Percayalah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar