Minggu, 06 Juli 2014

Serunya Belajar di Luar Kampus


Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 18, 19, 20, 21 Juni 2014
Perjalanan empat hari yang begitu mengesankan dan menyengkan. Kenangan indah yang tidak pernah kadaluarsa. Saya bersama kawan kawan belajar di luar kampus. Yakni di Jawa Barat. Kami menyebut ini field trip. Di berbagai tempat yang telah kami kunjungi, terdapat tiga tempat yang membuat saya semakin penasaran. Yakni, Panjalu; Inabah 18; dan Kampung Naga.
Panjalu.
Disana banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangan-dagangan mereka. Di suatu sudut, saya menemukan seorang ibu yang menjual benda yang berbeda dari yang lainnya. Ibu itu menjual hewan melata yang telah di keringkan, sepertinya juga diberi pengawet supaya tidak berbau bangkai. Saya penasaran akan hal itu. Kemudian saya bertanya kepada ibu itu. Beliau tidak mau menyebutkan nama dan tidak mau di dokumentasikan apa-apa tentang dirinya. Ketika saya bertanya mengapa beliau menjual ular, kadal, dan hewan melata serta hewan reptil lainnya yang telah dikeringkan. Beliau berkata bahwa banyak pengunjung yang mempercayai benda itu untuk dijadikan obat. Saat saya mulai memiliki rasa ingin tau yang hebat, ibu itu tidak berkenan jika saya bertanya-tanya mengenai beliau dan dagangannya. Kemudian saya memutuskan untuk pergi setelah menyampaikan rasa terimakasih dan permohonan maaf saya.


Inabah.
Tempat kedua yang menurut saya menarik yakni Inabah. Inabah merupakan tempat dimana rehabilitasi narkoba dan gangguan kejiwaan. Disana dijelaskan bahwa terdapat kegiatan-kegiatan positif yang membuat orang yang di rehabilitasi itu bisa menjadi yang baik seperti yang diharapkan. Disana juga terdapat hal yang rutin dilakukan tiap hariannya, yaitu : mandi malam jam 3 fajar, shalat, dzikir. Untuk urutan yang dilakukan yang pertama mandi, wudlu, shalat (diantaranya shalat tahiyatul masjid, shukuhuru, sunnah tahajud, shalat witir, shalat tasbih), dzikir, kemudian melaksanakan sholat subuh. Disana dijelaskan bahwa sehari kurang lebih 114 rekaat. Di inabah juga dilakukan talkin dzikir,yaitu yang disampaikan guru/pembina supaya orang zina itu bisa sadar dan bersih dari zina. Setiap akan sholat selalu dilaksanakan mandi terlebih dahulu. Untuk santri yang di rehabilitasi, juga diberikan tambahan baca Al-Quran untuk terapi ingatan dan diadakan keagamaan. Diadakan senam setiap seminggu sehari. Yang paling menarik disini yaitu setiap orang non islam yang masuk ke inabah ini, diislamkan disini dan dilakukan tanopa paksaan.

Kampung Naga.
Yang ketiga yakni di Kampung Naga. Di Kampung Naga kami disambt baik dengan pembimbing dari kampong adat tersebut yaitu bapak Cahyan. Beliau menjelaskan apapun yang terdapat di kampung adat tersebut. Kampung Naga terletak di Naglasari, Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat. Tepatnya perbatasan antara Garut dan Tasikmalaya. Kampung Naga memiliki luas daerah 1,5 Hektar. Dengan utara dan selatan dibatasi dengan parit kecil, sebelah barat dibatasi dengan buit kecil, dan sebelah timur dibatasi dengan Sungai Culan. Di desa yang sederhana namun terdapat keistimewaan sendiri ini memiliki 113 bangunan, yakni rumah penduduk, masjid, dan lumbung padi umum. Yang didalamnya terdapat 108 kepala keluarga, yakni 314 orang penduduk. Penduduk disana memiliki rutinitas kerja sebagai petani padi local yang dapat dipanen 1 tahun 2 kali. Mereka masih tradisional sekali. Ini terlihat karena penduduk yang bermatapencarian sebagai petani itu masih memanen hasi tanamnya dengan menggunakan ani-ani. Yang hasilnya di konsumsi sendiri. Hasil dari panen tersebut juga boleh dijual, dengan syarat sudah cukup semua padi yang dibutuhkan setiap kepala keluarganya.
Pak Cahyan juga menjelaskan bahwa kampung Naga ini tidak mau dijadikan kampung wisata. Disini juga terdapat structural kepemimpinan. Yakni :
1.      Formal
1)      Kuncen (Pemangku Adat)
2)      Lebe (bidang keagamaan)
3)      Punduh (Mengayomi warga, memimpin dan mengatasi warga yang menyimpang)
2.      Tiformal
Dipilih 5 tahun sekali secara demokrasi.
Di Kampung Naga terdapat tempatyang tidak boleh dikunjungi, yakni :
1.      Bumi ageng
Yang terletak di sebelah barat balai kampung. Ini merupakan tempat ziarah penduduk kampung adat ini. Setiap 1 tahun 6 kali, menyediakan tumpeng dan pelengkap lainnya. Disini pengunjung tidak boleh mengambil gambar.
2.      Patilasan
Disini diceritakan bahwa patilasan meripakan tempat pertama kali turunnya Agama Islam yakni abad ke 14. Singkat ceritanya terdapat perintah shalat pertama kali, tempatnya dekat dengan sungai dengan tujuan dekat dengan tempat wudlunya. Kisah yang lengkap terdapat pada buku sejarah kampung naga ini. Akan tetapi pada tahun 1956 ada kejadian dibakarnya kampung naga oleh DI TII Kartosuwiryo.
3.      Lingkaran kecil bekas lumbung
Kampung Naga memiliki aturan-aturan yang telah ditetapkan.
1.      Aturan bagi pengunjung :
1)      Tidak boleh membawa gitar
2)      Tidak boleh membawa miras
3)      Datang tidak memakai pemandu dari atas
2.      Aturan Bagi Warga Kampung Naga
1)      Tidak boleh main perempuan
2)      Tidak boleh judi atau memfitnah
3)      Tidak boleh memakai narkoba atau miras.
Di Kampung Naga juga terdapat 2 hutan, yakni : Hutan Kramat dan Hutan Lindung
Pendidikan di Kampung Naga sendiri yakni mayoritas lulusan SD atau SMP. Sedangkan yang lebih datas dari SMP itu sedikit sekali bahkan jarang.
Agama yang dianut di Kampung Naga ini adalah Agama Islam.
Di rumah-rumah penduduk yang termasuknya sangat tradisional ini masih menggunakan penerangan yang sangat kuno, yakni dengan menggunakan lampu tempel. Mengapa tidak menggunakan listrik? Karena rumah penduduk yang bahannya mudah terbakar menjadi kewaspadaan dan menjaga kecemburuan social. Dengan listrik pasti bisa menjadikan pertingkatan antara yang kaya dengan yang miskin.
Di Kampung Naga ini memiliki 3 jenis kesenian yang masih di budayakan, yaitu :
1.      Terbang Gembreng yang di tampilkan ketika malam upacara adat.
2.      Terbang Sejak, yaitu di pentaskan ketika peringatan 17 Agustus dan sunat masal.
3.      Angklung, disini angklung yang digunakan lebih besar dan berat daripada angklung yang lainnya.
Walaupun Kampung adat ini tidak memiliki listrik sebagaimana kampung pada umumnya, akan tetapi merka juga tidak kalah informasi dengan kampung lainnya. Yakni memperoleh informasi yang up to date. Melalui keluar kampung dengan berbaur dengan masyarakat luar, dan melalui KPU sosialisasi.
Demikian cerita yang menurut saya menarik dari hasil fieldtrip.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar