Perjalanan empat hari yang begitu
mengesankan dan menyengkan. Kenangan indah yang tidak pernah kadaluarsa. Saya
bersama kawan kawan belajar di luar kampus. Yakni di Jawa Barat. Kami menyebut
ini field trip. Di berbagai tempat
yang telah kami kunjungi, terdapat tiga tempat yang membuat saya semakin
penasaran. Yakni, Panjalu; Inabah 18; dan Kampung Naga.
Panjalu.
Disana banyak sekali pedagang yang
menjajakan dagangan-dagangan mereka. Di suatu sudut, saya menemukan seorang ibu
yang menjual benda yang berbeda dari yang lainnya. Ibu itu menjual hewan melata
yang telah di keringkan, sepertinya juga diberi pengawet supaya tidak berbau
bangkai. Saya penasaran akan hal itu. Kemudian saya bertanya kepada ibu itu.
Beliau tidak mau menyebutkan nama dan tidak mau di dokumentasikan apa-apa
tentang dirinya. Ketika saya bertanya mengapa beliau menjual ular, kadal, dan
hewan melata serta hewan reptil lainnya yang telah dikeringkan. Beliau berkata
bahwa banyak pengunjung yang mempercayai benda itu untuk dijadikan obat. Saat
saya mulai memiliki rasa ingin tau yang hebat, ibu itu tidak berkenan jika saya
bertanya-tanya mengenai beliau dan dagangannya. Kemudian saya memutuskan untuk
pergi setelah menyampaikan rasa terimakasih dan permohonan maaf saya.
Inabah.
Tempat kedua yang menurut saya
menarik yakni Inabah. Inabah merupakan tempat dimana rehabilitasi narkoba dan
gangguan kejiwaan. Disana dijelaskan bahwa terdapat kegiatan-kegiatan positif
yang membuat orang yang di rehabilitasi itu bisa menjadi yang baik seperti yang
diharapkan. Disana juga terdapat hal yang rutin dilakukan tiap hariannya, yaitu
: mandi malam jam 3 fajar, shalat, dzikir. Untuk urutan yang dilakukan yang
pertama mandi, wudlu, shalat (diantaranya shalat tahiyatul masjid, shukuhuru,
sunnah tahajud, shalat witir, shalat tasbih), dzikir, kemudian melaksanakan
sholat subuh. Disana dijelaskan bahwa sehari kurang lebih 114 rekaat. Di inabah
juga dilakukan talkin dzikir,yaitu yang disampaikan guru/pembina supaya orang
zina itu bisa sadar dan bersih dari zina. Setiap akan sholat selalu
dilaksanakan mandi terlebih dahulu. Untuk santri yang di rehabilitasi, juga
diberikan tambahan baca Al-Quran untuk terapi ingatan dan diadakan keagamaan.
Diadakan senam setiap seminggu sehari. Yang paling menarik disini yaitu setiap
orang non islam yang masuk ke inabah ini, diislamkan disini dan dilakukan
tanopa paksaan.
Kampung Naga.
Yang ketiga yakni di Kampung Naga. Di
Kampung Naga kami disambt baik dengan pembimbing dari kampong adat tersebut
yaitu bapak Cahyan. Beliau menjelaskan apapun yang terdapat di kampung adat
tersebut. Kampung Naga terletak di Naglasari, Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Tepatnya perbatasan antara Garut dan Tasikmalaya. Kampung Naga memiliki luas
daerah 1,5 Hektar. Dengan utara dan selatan dibatasi dengan parit kecil,
sebelah barat dibatasi dengan buit kecil, dan sebelah timur dibatasi dengan
Sungai Culan. Di desa yang sederhana namun terdapat keistimewaan sendiri ini
memiliki 113 bangunan, yakni rumah penduduk, masjid, dan lumbung padi umum.
Yang didalamnya terdapat 108 kepala keluarga, yakni 314 orang penduduk.
Penduduk disana memiliki rutinitas kerja sebagai petani padi local yang dapat
dipanen 1 tahun 2 kali. Mereka masih tradisional sekali. Ini terlihat karena
penduduk yang bermatapencarian sebagai petani itu masih memanen hasi tanamnya
dengan menggunakan ani-ani. Yang hasilnya di konsumsi sendiri. Hasil dari panen
tersebut juga boleh dijual, dengan syarat sudah cukup semua padi yang
dibutuhkan setiap kepala keluarganya.
Pak Cahyan juga menjelaskan bahwa
kampung Naga ini tidak mau dijadikan kampung wisata. Disini juga terdapat structural
kepemimpinan. Yakni :
1. Formal
1) Kuncen (Pemangku Adat)
2) Lebe (bidang keagamaan)
3) Punduh (Mengayomi warga, memimpin dan
mengatasi warga yang menyimpang)
2. Tiformal
Dipilih 5 tahun sekali secara
demokrasi.
Di Kampung Naga terdapat tempatyang
tidak boleh dikunjungi, yakni :
1. Bumi ageng
Yang terletak di sebelah barat balai
kampung. Ini merupakan tempat ziarah penduduk kampung adat ini. Setiap 1 tahun
6 kali, menyediakan tumpeng dan pelengkap lainnya. Disini pengunjung tidak
boleh mengambil gambar.
2. Patilasan
Disini diceritakan bahwa patilasan
meripakan tempat pertama kali turunnya Agama Islam yakni abad ke 14. Singkat
ceritanya terdapat perintah shalat pertama kali, tempatnya dekat dengan sungai
dengan tujuan dekat dengan tempat wudlunya. Kisah yang lengkap terdapat pada
buku sejarah kampung naga ini. Akan tetapi pada tahun 1956 ada kejadian
dibakarnya kampung naga oleh DI TII Kartosuwiryo.
3. Lingkaran kecil bekas lumbung
Kampung Naga memiliki aturan-aturan
yang telah ditetapkan.
1. Aturan bagi pengunjung :
1) Tidak boleh membawa gitar
2) Tidak boleh membawa miras
3) Datang tidak memakai pemandu dari
atas
2. Aturan Bagi Warga Kampung Naga
1) Tidak boleh main perempuan
2) Tidak boleh judi atau memfitnah
3) Tidak boleh memakai narkoba atau
miras.
Di Kampung Naga juga terdapat 2
hutan, yakni : Hutan Kramat dan Hutan Lindung
Pendidikan di Kampung Naga sendiri
yakni mayoritas lulusan SD atau SMP. Sedangkan yang lebih datas dari SMP itu
sedikit sekali bahkan jarang.
Agama yang dianut di Kampung Naga ini
adalah Agama Islam.
Di rumah-rumah penduduk yang
termasuknya sangat tradisional ini masih menggunakan penerangan yang sangat
kuno, yakni dengan menggunakan lampu tempel. Mengapa tidak menggunakan listrik?
Karena rumah penduduk yang bahannya mudah terbakar menjadi kewaspadaan dan
menjaga kecemburuan social. Dengan listrik pasti bisa menjadikan pertingkatan
antara yang kaya dengan yang miskin.
Di Kampung Naga ini memiliki 3 jenis
kesenian yang masih di budayakan, yaitu :
1. Terbang Gembreng yang di tampilkan
ketika malam upacara adat.
2. Terbang Sejak, yaitu di pentaskan
ketika peringatan 17 Agustus dan sunat masal.
3. Angklung, disini angklung yang
digunakan lebih besar dan berat daripada angklung yang lainnya.
Walaupun Kampung adat ini tidak
memiliki listrik sebagaimana kampung pada umumnya, akan tetapi merka juga tidak
kalah informasi dengan kampung lainnya. Yakni memperoleh informasi yang up to date. Melalui keluar kampung
dengan berbaur dengan masyarakat luar, dan melalui KPU sosialisasi.
Demikian cerita yang menurut saya
menarik dari hasil fieldtrip.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar